Kata Lima Huruf yang Bikin Sensi

Kata Lima Huruf yang Bikin Sensi

Bersilaturahim dengan orang yang jarang bertemu dengan kita itu seharus menjadi momen yang menyenangkan. namun bagaimana jika ketika bertemu, orang tersebut justru melontarkan kata lima huruf yang bikin sensi ibu-ibu, membuat bad mood dan hilang semangat, bahkan mungkin merasa menjadi ibu yang gagal?
kata lima huruf yang bikin sensi itu adalah “KURUS”. seandainya kata itu ditujukan buat saya, mungkin saya akan senang karena menandakan diet berhasil.hhe.. sayangnya, kata ini ditujukan buat si anak. sakitnya tuh, di sini…
Percaya deh, buat ibu-ibu muda macam saya, kata ini seperti sembilu rasanya. terkesan sepele, tapi perih. saya sering berdiskusi dengan ibu-ibu muda, nampaknya anak2 mereka juga cenderung TERLIHAT kurus di usia balita. kenapa “terlihat” pake di capslock? karena memang hanya penampakannya saja. lalu dengan mudahnya entah itu teman, tetangga, orang tua atau mertua mengatakan anak kita kurus. bagaimana bisa mereka yang bukan berprofesi sebagai dokter maupun ahli gizi bisa langsung men-judge demikian? bahkan dokter saja butuh mengumpulkan data tinggi, umur dan berat anak untuk kemudian di plot di growth cart, baru mereka berani berpendapat. merasa lebih pinter dari dokter hanya dengan cenayang plus kirologi, kemudian bilang KURUS tentulah tidak bijak.
Bagi mereka yang sering berlaku demikian, saya ingin mengucapkan selamat!
1. Selamat, karena dengan kata lima huruf tersebut anda telah menambah beban pikiran si ibu. saya bukan hanya istri dan ibu, saya juga karyawan, tanpa ART pula. tidak mudah bagi saya membagi otak untuk memikirkan porsi-porsi tersebut. sebagai istri saya memikirkan suami pake baju apa hari ini (waduh belum di seterika!) dsb. sebagai ibu saya memikirkan anak-anak saya makan apa, si kakak mau menu apa supaya mau makan, si adek bubur apa hari ini dsb. sebagai karyawan, saya memikirkan kerjaan harus selesai, cepat dan tepat. jangan sampai lembur karena harus jemput anak di daycare, jangan sampai bawa kerjaan pulang agar bisa bermain dengan anak dsb. karena ga ada ART, tentulah saya juga memikirkan pekerjaan domestik yang ga selesai-selesai. Saya bukan hendak mengeluh. hanya meminta, please! bisakah tidak menambah slot lagi di otak saya? bisakah lebih fokus melihat pada hal-hal baik sehingga dapat memberikan energi positif yang membuat si ibu lebih bersemangat?!
2. Selamat, karena dengan kata lima huruf yang anda ucapkan, membuat ibu merasa usahanya sia-sia. apakah si pengucap kata KURUS itu tau bagaimana usaha ibu si anak yg di judge dalam merancang asupan buat anaknya,  diam-diam memantau perkembangan tinggi dan beratnya serta memasukan ke dalam catatan pribadinya, memploting dengan hati-hati ke growth cart sambil menahan napas dan menghembuskannya dengan lega ketika titik BB dan TB bertemu sedikit diatas garis hijau, kemudian berdiskusi sana sini, ikut grup sana sini, browsing sana sini untuk dapat ilmu demi memenuhi nutrisi si anak? adakah si ibu diapresiasi? tidak! yang mereka liat hanyalah tampilan luar.
3. Selamat. Anda telah menghancurkan hati si ibu. pernahkah anda memperhatikan kondisi si ibu? melihat wajahnya? mungkin wajahnya terlihat kusam, lelah dan matanya menghitam. bisa saja itu akibat banyak yang dipikirkannya. mungkin salah satunya anak KURUS yang anda sebut itu memakan paling banyak ruang di pikirannya, sehingga untuk memikirkan dirinya sendiri saja dia tidak sempat.
Sebagai orang yang sesekali bersua, tidak hidup bersama, bahkan tidak ambil andil dalam pengasuhan anak si ibu yang hancur hatinya tadi (lebay) jangan lah mengeluarkan statement-statement negatif yang sifatnya meng-judge. apakah setelah mengeluarkan kata itu, kemudian anda melanjutkan dengan  memikirkan solusinya? saya rasa tidak! anda hanya pergi dan tidak mau tau lagi dengan apa yang terjadi pada ibu si anak yang mendengarkan ucapan anda tersebut.
So, let’s be wise! sebagai teman, orang tua, mertua, kakek, nenek, paman, bibi, apapun peran kita, buatlah komen-komen menyenangkan saat bertemu orang yang jarang anda temui apapun itu. Berhati-hatilah dengan syahwat kalam!
#notetomyself
#sesekalibikintulisansensi
Advertisements

MPASI: Makanan Pertama Bayi

simpen dulu simpen

Makanan Pendamping ASI: MPASI WHO

simpen dulu, simpen.. 🙂

Dunia Sehat

Hai ibu-ibu.. 🙂 ada yang masih bingung bagaimana memberi makan pada anak saat umurnya sudah 6 bulan?

Yuk dibaca artikel berikut ini:

Pemberian makan pada anak sebaiknya disesuaikan dengan tahapan perkembangan tubuhnya. Sebagai manusia kecil yang sedang sibuk tumbuh berkembang, kebutuhan zat gizi tubuh anak sangat banyak loh. Jangan sampai dia kekurangan asupan zat gizi karena efeknya sangat fatal sekali, bahkan hingga kelak di usia dewasanya. ASI saja sudah tidak cukup buat anak di atas 6 bulan yaa…

Defisit Energi dan Zat Besi

Dalam pemberian MPASI menurut MPASI WHO ini mudah sekali, bayi boleh makan apa saja dan harus diperhatikan: frequency (frekuensi MPASI), amount (jumlah takaran MPASI), thickness (tekstur makanan MPASI), variety (jenis), active/responsive feeding dan higiene.

1. Frekuensi pemberian makan MPASI 

Pada awal MPASI WHO setelah bayi genap berumur 6 bulan,  frekuensi MPASI makanan utama/makan besar diberikan bertahap 2 – 3 kali sehari.

Pada umur 6…

View original post 2,760 more words

Hingga Batu Bicara

Cerpen mba HTR ini saya baca sudah lama..membuat saya mencari tau tentang Palestina hingga saya jatuh cinta padanya. Allahummanshur ikhwana wa mujahidina fii filistine…

BERANDA RASA HELVY TIANA ROSA

Hingga Batu Bicara

Biarkan aku!” seru gadis itu sekali lagi sambil menatapku tajam.

Aku memandangnya lama, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ini ketiga kalinya ia berada di tempat ini. Melakukan hal yang sangat tidak wajar. Ia bicara pada batu-batu! Ya, pada batu! Ia bisa tampak serius, lalu tiba-tiba tertawa atau menangis sendiri. Ia membelai batu-batu. Menggendongnya seperti menggendong bayi, memasukkan batu-batu tersebut ke dalam tas kainnya yang kusam.

“Bukankah kalian telah merampas semua? Sekarang, biarkan aku bicara pada batu-batu itu!” teriaknya lagi.

Dan seperti hari-hari kemarin, aku pun berlalu begitu saja dari hadapan gadis itu sambil membetulkan letak senapan laras panjang yang kusandang. Namun sampai di pos penjagaan, beberapa meter dari tempat perempuan itu berada, mataku masih lekat padanya.

Aku tak tahu siapa perempuan itu. Diakah? Sejak pindah tugas bulan lalu dari Tel Aviv ke tanah kelahiranku, Yerusalem, tepatnya di sekitar Al Aqsha dan Dinding Ratapan ini, hampir setiap hari aku, juga tentara…

View original post 1,410 more words

3 Tahun Hingga Selamanya

Kata orang, usia pernikahan di bawah 5 tahun itu usia rawan. Banyak gesekan yang tejadi sehingga tercapai posisi seimbang. Memang benar adanya, di tahun pertama pernikahan saya sering menangis. Gamang, aneh banyak perasaan yang bercampur aduk jadi satu. Apalagi saat itu langsung diamanahkan mengandung putri kecil kami Shafiyah. Mood swing, mungkin ini yang saya alami sehingga merasa tidak mengenal diri sendiri disaat diri juga belum begitu mengenal suami. Ingin suami mengerti sepenuhnya diri ini, padahal diapun tengah belajar, tengah mencerna manusia seperti apa saya ini. Banyak hal-hal “konyol” terjadi ketika itu dan ketika dikenang suka menjadi bahan olok-olokan yang mengundang tawa.

Es buah air mata. Begitu suami menamai kedai kecil langganannya itu. Pasalnya saya menangis sesungukan di sana sambil makan es buah hingga air mata pun menambah banyak kuahnya. Hanya karena tidak dituruti keinganan makan soto ayam kuah bening yang memang tidak ditemukan penjualnya di daerah itu. Ngidam dan mual menjadi kambing hitam karena hanya makanan-makanan tertentu yang mampu tertelan dan merasa suami kurang berusaha keras untuk mencarikannya dengan mengatakan ” mau dicari kemana jam 10 malam begini bunda?” air mata pun tak terbendung..(lebay memang).

Cabe rawit itu wangi!. Setidaknya begitu instruksi yang diberikan otak pada hidung saya ketika itu sehingga tengah malam merengek minta cabe rawit yang dimasak bersama mie rebus instan. Mendapati kening suami berkerut membuat hati sedih. Namun, suami orang yang sangat cepat belajar, dari pada banjir air mata seperti sebelumnya, lebih baik pergi mencari, berharap tukang sayur lewat (mana mungkin?). Alhamdulillah cabe kecil berwarna hijau itu ditemukan di Alfa Midi yang buka 24 Jam. Suami pun sujud syukur 😀

Kami pun pernah menangis bersama. Adakalanya kaget, heran saat menemukan sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi. Terpendam, sesak, tak terungkapkan. Makin lama makin menumpuk, hingga sampai pada puncaknya meluap tak terkira. Kata-kata yang tak terungkapkan lewat lisan akhirnya hanya mampu dituliskan pada selembar kertas buram. Memberi waktu menyepi baginya untuk membaca. Sendiri. Meresapi. Ketika matahari terik, telepon dan sms bertubi-tubi dari suami, saya hiraukan. Tapi itulah suami saya, dia pembelajar yang hebat. dia tau di mana saya berada. Mushola kecil itu jd saksi mata yang berkaca-kaca saat dia mengucapkan maaf. Azan dzuhur ketika itu pun terasa sangat mengharukan dari biasanya. Ya, kadang-kadang perlu juga drama korea dalam kisah kita :p

Mustahil untuk meminta suami sesuai keinginan kita. Dia sudah diciptakan sedemikian rupa oleh Allah sesuai porsinya. Awalnya saya mengharapkan suami yang romantis (saya rasa semua perempuan begitu), namun malah merasa awkward ketika suami mencoba romantis. Haha.. itulah, bawaan orok memang sulit diubah. Tarik-ulur, menaikkan-menurunkan standar itu hal yang harus dilakukan. Adakalanya standar saya yang tinggi diturunkan sedikit, dan suami pun begitu menaikkan standarnya ketika rendah. Sehingga tercapai keseimbangan. Sama-sama enak. Syukur dan sabar itu kuncinya.

Saya yakin, setiap orang pasti punya suka duka tersendiri dalam membina rumah tangga mereka. Sering dikatakan bahwa rumah tangga itu bagaikan bahtera yang tengah belayar, dan suami adalah nahkodanya. Karena saya tidak begitu menyukai laut, dan kerap mabok laut, saya lebih senang menganalogikan rumah tangga ini bagaikan mendaki gunung dan suami adalah “sahabat” saya. Penat, terengah-engah membawa beban berat, gerah berkeringat, kadang hampir putus asa kapan sampai puncak. Namun, ditengah perjalanan melelahkan itu, banyak hal membahagiakan yang kadang tidak disadari tersaji disekitar kita. Hanya tinggal menolehkan kepala, keatas, kesamping dan meresapinya. Pemandangan indah, kebersamaan dengan sahabat itu dapat mengobati semuanya. Begitulah, saat ini suami adalah “sahabat” saya dalam pendakian ini. Anak-anak adalah pemandangan indah itu. Tinggal bagaimana upaya untuk menegakan kepala menoleh kepada mereka dan mecoba mengerti mengapa Allah menghadirkan mereka dalam hidup saya. Alhamdulillah, timbul rasa ikhlas dan membahagiakan sehingga perjalanan menuju puncak (Ridho dan syurga Allah tentunya) terasa menyenangkan.

3 tahun berlalu, tidak terasa akhirnya kami mampu menyesuaikan diri terhadap satu dan lainnya sedikit demi sedikit. Berkomitmen untuk mengkomunikasikan segala sesuatunya untuk diputuskan bersama. Suami bagi saya adalah pemimpin bergaya egaliter. Dia tidak pernah menganggap saya sebagai subordinat. Saya sangat menghargai hal itu.

3 kali 8 Juli terlewati, saya menyadari bahwa memang benar cinta itu harus diupayakan, dibangun dan di pupuk, sehingga akarnya menghujam kuat yeng membuatnya tidak akan tercerabut oleh badai sekalipun.

Tepat di 3 tahun ini, saya berdoa semoga Allah memberi kesempatan bagi saya untuk terus memperbaiki diri sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya serta mengaruniai kebersamaan kami untuk selamanya.. Amiin

Happy 3rd Anniversary..

Depok, 8 Juli 2014

Nak, Cukuplah Memantaskan Diri Dihadapan Allah

Saat mengantri giliran ke dokter kandungan kemarin, bunda mendengar beberapa ibu sedang membicarakan produk-produk bayi yang sedang happening saat ini. Seolah-olah mereka ingin tampak sangat sayang dan memperhatikan bayi mereka diantara ibu-ibu lain dengan mengatakan produk-produk yang mereka beli untuk bayi mereka adalah produk mahal dan branded. Pembicaraan itu membuat bunda berpikir tentang bagaimana mendidik mu kelak.

Nak, bunda minta maaf, dari awal ini bunda sampaikan bahwa ayah dan bunda sepakat tidak akan memanjakan mu dengan materi walaupun kami mampu untuk itu. Membelikan barang-barang mahal (yang sebenarnya kamu sendiri tidak mengerti untuk apa memiliki barang tersebut) hanya untuk mendapatkan pengakuan dari oranglain.

Lebih baik kita berpikir bagaimana memantaskan diri dihadapan Allah. Hal ini tidak mudah,nak. Karena Dia tidak memandang dari mahalnya baju yang kamu kenakan,bukan dari halusnya bedong yang membalut mu dan juga bukan dari terkenalnya merk lotion yang menjaga kulit mu. Semua itu bisa dibeli dengan uang. Tapi tidak dengan Ridho Allah.

Zuhud itu lebih baik dan lebih di sukai Allah. Kamu bisa minta ayah menceritakan Shiroh Rasulullah saw dan Sahabat-sahabat beliau. Bagaimana kezuhudan mereka. Ayah sudah berjanji,akan meluangkan waktunya untuk itu.

Nak, Bunda dan Ayah pun tengah terus belajar tentang ini. Semoga kami bisa terus belajar sembari mengajari mu pula.

 

RS MKD, 1 November 2013

..merasakan gerakan Hamka di perut..

Hello Dearest!

Apa kabar mu sayang? saat kalian sudah mampu membaca tulisan ini, mungkin usia kami menginjak senja. Mungkin tak semua kenangan sempat kami ceritakan. Karena kalian sangat aktif, senang mengeksplorasi hal-hal baru, asik dengan buku-buku atau kadang asik menikmati kartun kesayangan kalian yang kami pilihkan.

sekelumit tulisan-tulisan ini, semoga menjadi bukti betapa kami sangat ingin tetap memiliki kenangan tersebut, tidak melupakannya karena ingatan kami yang pasti akan berangsur lemah dan betapa kami menikmati setiap detik bersama kalian. 

 

Ayah & Bunda